Don't miss

Akses Informasi Ungkap Dampak Pencemaran PT IKPP (Bag 1)

By on May 26, 2014

pencemaran ciujungSERANG—Usaha masyarakat untuk mengakses informasi publik mengenai dampak pencemaran PT IKPP di Sungai Ciujung, Serang, tidak sia-sia. Akses informasi komunitas di sekitar Sungai Ciujung, yang didamping Walhi, ICEL dan MediaLink, tersebut berbuah dokumen Hasil Audit Lingkungan PT IKPP.

Dari dokumen Audit Lingkungan tersebut terungkap bahwa PT IKPP memberikan kontribusi pencemaran limbah cair tehadap Sungai Ciujung sebesar 83,92%. Keterangan  tabel kualitas limbah dalam laporan audit tersebut menyebutkan, pada Laboratorium Unilab; IPAL 2, Chemical Oxygen Demand (COD) melebihi baku mutu sebanyak 26% dan IPAL 3, COD melebihi baku mutu sebanyak 42,6%. Pada Laboratorium ALS; IPAL 2, Biochemical Oxygen Demand (BOD) melebihi baku mutu sebanyak 26% dan IPAL 3, BOD melebihi baku mutu sebanyak 145% dan 143% untuk COD. Ini merupakan beberapa temuan yang dapat dilihat dalam laporan audit lingkungan hidup wajib pengolahan air limbah dari PT IKPP. (Baca: Akses Informasi Pencemaran Sungai Ciujung)

Adapun masyarakat yang terkena dampak adalah masyarakat Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Serang. Desa ini merupakan desa pesisir, dimana limbah dari PT IKPP bermuara melalui Sungai Ciujung. Sejak  awal tahun 90-an masyarakat Desa Tengkurak diresahkan dengan kehadiran limbah PT IKPP  yan dibuang ke Sungai Ciujung. Pengakuan Bapak Suryadi, Kepala Desa yang baru terpilih sekitar 5 bulan yang lalu mengatakan tahun 80-an dan sebelumnya merupakan masa kejayaan masyarakat Tengkurak. Di sanalah ikan masih banyak dan pertanian juga masih subur. Tetapi sejak kehadiran limbah tersebut, semua penghasilan menurun drastis.

Banyak juga masyarakat Tengkurak yang saat ini telah pindah rumah dikarenakan tidak tahan dengan bahaya dan baunya limbah serta hilangnya mata pencaharian mereka yang sebagai nelayan dan petani. Dari tahun 90an sampai saat ini masyarakat terus berupaya agar perusahaan itu menghentikan aktifitasnya dan membuang limbah ke sungai.

Dokumen Audit Lingkungan tersebut terhitung sangat tebal dan memuat banyak istilah teknis yang tak mudah dimengerti kalangan awam. Untuk menggali lebih dalam kandungan penting dari dokumen tersebut, tim kerja dari MediaLink juga berkesempatan mewawancari Dr. Etty Riani, pakar pencemaran air dan dosen program studi lingkungan pascasarjana Institute Pertanian Bogor. Berikut merupakan analisis Dr Etty yang dikutip dari wawancara yang dilakukan pada  pertengahan Mei 2014 tersebut.

Bahaya BOD, COD dan kandungan limbah lainnya

BOD (Biological Oxigen Demand) itu hanya bahan organik biasa. BOD diuraikan oleh makhluk hidup/ jasa biologi. Biasanya BOD ini tidak terlalu bahaya, karena diuraikan langsung oleh bakteri dan menjadi bahan anorganik dan menyuburkan perairan. Bahayanya itu, kalo BOD-nya tinggi dan oksigennya rendah,  nanti akan terbentuk gas-gas racun seperti H₂S, Nitrit, Amonia, CO. akan tetapi, jika oksigennya ada, itu tidak masalah. Hanya saja nanti akan terlalu subur airmya. Misalnya, airnya itu masuk ke laut dan di laut itu ada silikat, itu akan memicu pertumbuhan  Redide.

COD (Chemical Oxigen Demand) juga demikian, itu bahan organik. Hanya bahan organiknya itu tidak bisa diuraikan secara biologi. Jadi diuraikannya secara kimia. Ini pun banyak bahan-bahan yang sulit terurai. Kalau sulit diuraikan, ini pun sama, saat dibawa ke laut akan memicu pertumbuhan fitoplankton yang tak terkendali yang disebut Redide itu. Jadi akan kelihatan di air itu, warnanya merah seperti ager dan akan menyebabkan kematian ikan. Karena makanannya itu terlalu banyak.

Sebenarnya, yang bahaya itu bukan BOD dan COD jika pabriknya itu Pulp dan paper. Zat yang bahaya ialah AOh (Absorable Organic Halogen). Dikatakan Halogen karena ada unsur Halida. Halidanya itu Chlor,  ini yang sangat bahaya. Karena jika dalam perairan ini akan masuk ke dalam ikan  melaluki proses makan memakan melalui proses yang namanya biomagnetikasi. Akhirnya akan sampai kedalam daging ikan, ikannya kita makan dan AOh itu akan masuk juga ke dalam tubuh manusia. Dan ini yang memicu terjadinya kanker.

Kemudian ada lagi, Dioxsin dan Furan. Ini juga akan sangat membahayakan. Jika ada diudara akan menjadi kanker kulit, atau jika masyarakat menggunakan air sungai yang tercemar ini untuk mandi misalnya, ini juga menyebabkan terjadinya kanker.

AOh ini berasal dari effluent / kebocoran.  Dalam industri ini ada bleaching / pemutihan, Karena selulosa berwarna coklat. Supaya jadi putih biasanya mereka memakai Chlorin. Akhirnya  muncullah AOh, Dioxin, dan Furan sebagai bahan pemutih. Saat ini sebenarnya ada pemutih yang biologi dengan menggunakan enzim seperti Filanase. Ini lebih ramah lingkungan dan lebih putih. Memang persoalannya adalah lebih mahal. Sehingga perusahaan menggunakan bahan kimia tersebut karena mereka berfikir untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

Kemudian yang keluar dari pabrik kertas juga biasanya ada Alumunium (Al), Seng (Zn), Sulfid (S), dan H₂S. Sulfurnya juga tinggi dan oksigennya kurang yang menyebabkan terbentuk H₂S (gas racun) dan menyebabkan  bau.  Keluarnya zat Al dan Zn ini karena memang industri ini menggunakan bahan itu. jika hanya bau, itu mudah dihilangkan. Dengan oksidasi, diberikan oksigen murni, dan aerasi yang kuat, bau itu akan hilang. Justru yang bahaya itu adalah AOh, Dioxin, dan Furan.

Alumunium jika digunakan terlalu banyak, ini akan berefek kepada saraf, seperti penyakit Thremor dan Parkinson. Efek yang diakibatnya bisa terkena susunan saraf pusat (otak) dan susunan saraf tepi (saraf diseluruh tubuh kita).

Bersambung ke Bagian 2

Gambar: Ilustrasi pemcemaran diambil dari http://images.harianjogja.com/2013/02/pencemaran1.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

3,765 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>