Don't miss

Jagongan KBT FM, Ruang Berbagi Pengalaman & Informasi

By on May 20, 2013

Besuki (PORONG-SIDOARJO) 03/2013 — Lumpur Lapindo jadi pelajaran kembali sejak terbitnya Perpres 14 tahun 2007 warga korban lapindo mulai menemukan titik terang walaupun nasib mereka ke depan tidak menentu. Sesuai Perpres 14 tahun 2007 seluruh kerugian yang di dalam tanggul menjadi tanggungan lapindo, dan hanya tanah dan bangunan yang mendapat ganti rugi dengan cara jual beli. Sementara kerugian yang bersifat imaterial tidak tercantum dalam Perpres tersebut. Korban kehilangan segalanya, termasuk kehilangan aset ekonomi, sosial, dan budaya.

Warga mulai menata kehidupan yang baru dengan pindah ke tempat lain dengan harapan kehidupan yang lebih baik: anak-anak bisa sekolah dengan tenang, kerja lebih baik tidak seperti yang sudah terjadi ketika lumpur datang .
Setahun setelah semburan pertama muncul pada 2006, lumpur lapindo meluber kemana-mana hingga sampai ke tiga desa: Besuki, Pejarakan, dan Kedungcangkring. Terbitlah kemudian Perpres 48 tahun 2008 yang berisi ketentuan biaya ganti rugi melalui jual beli ditanggung oleh APBN untuk tiga desa ini.

Nasib warga korban lapindo dari tiga desa tersebut pun sama dengan warga korban lapindo dalam Perpres 14 tahun 2007 yang sudah pindah dari desanya terlebih dahulu. Warga pindah ke tempat lain berharap mendapatkan dan bisa menata kehidupan yang lebih baik.
Foto KBT FM

Kanal Besuki Timur (KBT FM) menemukan korban lapindo yang termuat dalam Perpres 14 tahun 2007 yang berasal dari desa Jatirejo, Renokenongo, Kedungbendo, dan Siring mendapatkan kesulitan dalam memulai hidup baru. Ketika menjumpai salah satu warga Jatirejo, KBT mendapatkan jawaban beragam.

“Saya kira menjalani kehidupan di tengah-tengah warga dimana Saya menetap sekarang tidak segampang apa yang Saya bayangkan. Bagaimana saya beradaptasi dengan warga setempat sangat sulit sekali,” tutur Saman korban dari desa Jatirejo.

Seger dari Renokenongo juga sependapat, ia menjelaskan bahwa warga di luar korban Lapindo menganggap korban sudah kaya sehingga Ia sering dimintai sumbangan. Korban Lapindo yang temuat dalam Perpres 48/2008 nasibnya sama. Ada sebagian yang ingin rumahnya dijual, bahkan ada yang sudah terjual dengan alasan tidak betah.

Pada tanggal 30 Desember 2012, radio KBT FM mengajak korban Lapindo berdiskusi dalam acara “Jagongan KBT FM”. Abdul Rochim selaku moderator acara jagongan KBT FM memaparkan hasil pertemuan dengan kawan kawan korban yang sudah pindah mereka mengalami berbagai persoalan di tempat yang baru hendaknya dijadikan contoh.

Musliman, salah satu korban lapindo merasa sulit ketika langsung pindah tanpa ada bekal. Tiba-tiba Ia dihadapkan pada situasi baru. Kakaknya yang juga menjadi korban juga merasa terasing di tempat yang baru.

Berbagai pertanyaan muncul dari warga Besuki. Faizun tidak bisa membayangkan seandainya pindah nanti apakah lebih baik atau sebaliknya. Demikian halnya Yusuf, ia lebih melihat harus ada pemberian informasi dan diskusi terkait bagaimana pengelolaan dan perencanaan di tempat yang baru nanti.

Irsyad menyarankan hendaknya pengalaman kawan kawan korban lapindo yang sudah pindah dijadikan pelajaran. Ia mempertanyakan hal-hal yang terkait penanganan nasib korban lapindo menjadi tugas siapa. “Mestinya korban tidak dibiarkan seperti ini. Negara hanya ganti rugi dengan cara korban dipaksa jual asetnya dan dibiarkan tidak ada penataan kembali,” tuturnya.

Acara jagongan KBT FM ditutup dengan pelajaran yang dipetik bahwa pengalaman yang ada patut dijadikan pelajaran berharga kedepan. Dengan pengalaman korban lapindo yang lain warga di Besuki punya bekal untuk menyiapkan diri menghadapi kondisi tak menentu ke depan.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

3,765 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>