Don't miss

Pelayanan Kesehatan Penerima PBI di Porong, Sidoarjo Masih Lamban

By on October 23, 2015

Sepanjang September – Oktober, MediaLink dan komunitas AlFaz, ArRohmah bekerjasama melakukan pemantauan pengawasan pelayanan kepesertaan Peneriman Bantuan Iuran (PBI) dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh (BPJS) di Porong, Sidoarjo.

Pengawasan berbasis warga yang dilakukan oleh Bambang Catur Anugrah dari komunitas Alfaz dan ArRohmah, menemukan bahwa peserta penerima PBI masih tersandung masalah administrasi dalam memperoleh pelayanan kesehatannya.

Hal ini di alami oleh Rodiya, warga Besuki Timur yang  pindah ke Desa Panggreh pada bulan Mei 2015. Rodiya awalnya berobat ke Puskesmas Jabon dengan menggunakan Jamkesmas dan kemudian dirujuk ke RSU Sidoarjo. Sesampainya di RSU Sidoarjo, Rodiya mengalami masalah karena status kartu Jamkesmas yang dipegang Rodiya beralamatkan desa Besuki. Sementara, Rodiya sudah berpindah menjadi warga Panggreh.

“Awalnya pihak rumah sakit berargumen kalau saya tidak bisa menggunakan fasilitas PBI,  dan harus menjadi pasien umum karena status penduduk di KTP dengan Jamkesmas tidak sesuai,” tutur Rodiya kepada Harwati dari komitas ArRohmah.

“Tapi, setelah didiskusikan akhirnya disetujui dengan syarat harus melampirkan surat domisili desa yang ditempati sekarang,” lanjut Rodiya mengisahkan.

Pelayanan RSU Sidoarjo masih lamban dalam menangani pasien PBI dan tidak intensif.

“Setelah dari IGD saya menunggu sekitar satu jam untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Saya menderita diabetes,  kondisi saya ketika itu lemah karena kurang darah. Tapi, penambahan darah baru saya dapatkan satu hari kemudian,” kisah Rodiya.

“Kondisi saya belum cukup baik ketika dokter mengatakan saya boleh pulang, dan menyarankan berobat jalan.”

Selain penanganan pasien yang lamban, peserta PBI juga dirumitkan dengan proses administrasi ketika meninggalkan rumah sakit. Pertama pasien harus mengurus pencabutan data pasien di ruang perawat, kedua ke ruang administrasi atau loket pembayaran.

“Saya melihat total biaya selama satu minggu sekitar Rp. 8.320.000,- tertera dinota yang harus saya tanda tangani.”

Pelayanan yang lamban juga dialami oleh alm Abdul Manap warga Japon, Besoek. Abdul Manap menginap TBC, ketika dilarikan ke RSUD Sidoarjo pada bulan Juni 2014.

“Bapak masuk IGD jam 02.00WIB, penanganan medis ditangani sekitar jam 03.00WIB. Jam 06.00WIB Bapak baru mendapatkan kamar perawatan di Mawar Merah Putih. Dokter tidak memberikan obat, Bapak hanya diinfus sejak dari IGD. Dokter bilang Bapak harus puasa karena besok akan cek darah,” kisah Eko, anak dari alm Abdul Manap.

“Sekitar jam 17.00WIB kondisi bapak semakin lemah, beliau saya papah ketika akan ke kamar mandi. Di kamar mandi, Bapak pingsan dan dinyatakan koma. Jam 18.00WIB Bapak meninggal,” papar Eko kepada Harwati.

Pengalaman baik dialami oleh Umroh, warga desa Besuki yang juga pindah ke Panggreh dan tercatat sebagai penerima PBI. Sebelumnya, Umroh berobat ke Puskesmas Jabon, lalu dirujuk ke Rumah sakit Bayangkara Brimob Porong.

“Tidak ada masalah administrasi,  karena saya masih menyimpan fotokopi kartu keluarga dan KTP desa lama,” ceritanya. “Dokter dan perawat rumah sakit  Bayangkara Brimob Porong, cukup disiplin dan perhatian terhadap pasien,” lanjut Umroh menutup ceritanya.

Baca juga: Sharing Pengalaman Manfaat UU KIP Bagi Warga Porong, Sidoarjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

3,781 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>