Ratusan Orang Diduga Keracunan Massal MBG di Grobogan
GROBOGAN — Puluhan sekolah dan lembaga pendidikan di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menjadi sorotan rajamahjong setelah ratusan siswa, santri, serta tenaga pendidik dilaporkan mengalami diduga keracunan massal usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Jumat, 9 Januari 2026. Kejadian ini langsung memicu respons cepat dari aparat kesehatan dan pemerintah daerah.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan mencatat 658 orang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di sejumlah lokasi pendidikan. Korban tersebar di berbagai wilayah, antara lain Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari, dengan sebagian besar berasal dari sekolah negeri dan pondok pesantren.
Gejala dan Respons Medis
Para korban mengalami gejala khas keracunan makanan seperti mual, muntah, hingga gangguan pencernaan, yang muncul situs kamboja tak lama setelah konsumsi MBG. Akibatnya, banyak di antaranya membutuhkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ki Ageng Getas Pendowo Gubug menjadi pusat perawatan korban. Fasilitas kesehatan tersebut bahkan mengaktifkan ruang rawat tambahan guna menampung lonjakan pasien dengan kondisi serupa, menunjukkan urgensi penanganan.
Sumber MBG dan Investigasi Penyebab
MBG yang diduga menjadi sumber keracunan disiapkan dan disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug. Hidangan yang dibagikan berupa nasi kuning, telur, dan abon yang dibagikan kepada puluhan institusi pendidikan.
Menanggapi kejadian ini, Dinas Kesehatan langsung mengambil langkah investigatif dengan mengumpulkan sampel makanan MBG untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium kesehatan provinsi. Sampel makanan akan dianalisis guna memastikan apakah terdapat kontaminasi bakteri atau faktor lain yang memicu gejala keracunan.
Kepala Dinkes Kabupaten Grobogan, Djatmiko, menyatakan bahwa hingga kini pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab pasti. Namun langkah pengambilan sampel merupakan bagian dari mekanisme klarifikasi ilmiah yang wajib dilaksanakan sebelum menetapkan penyebab utama.
Dampak pada Sekolah dan Komunitas
Korban yang dilaporkan terdiri atas beragam jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMK, hingga santri pondok pesantren. Bahkan jumlah santri yang terdampak di salah satu pondok mencapai ratusan orang.
Akibat peristiwa ini, beberapa sekolah mengalami lonjakan ketidakhadiran siswa karena sakit dan membutuhkan perawatan. Orang tua serta pihak sekolah bekerjasama dengan instansi kesehatan untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Tindakan Preventif dan Pengawasan
Pemerintah daerah dan instansi terkait terus meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di Grobogan untuk mencegah kejadian serupa terjadi lagi. Selain itu, komunikasi antara sekolah, dinas kesehatan, dan penyedia layanan gizi diperkuat untuk memastikan standar kebersihan serta keamanan pangan terjaga.
Kasus ini memancing diskusi luas mengenai pengelolaan MBG di tingkat nasional dan lokal. Banyak pihak mendesak evaluasi menyeluruh atas standar pengolahan serta distribusi makanan gratis itu, agar tujuan program — yakni meningkatkan gizi masyarakat — tidak justru berujung masalah kesehatan.
Penutup
Insiden keracunan massal yang melibatkan ratusan orang di Grobogan menjadi peringatan penting bahwa program pelayanan makanan gratis perlu disertai pengawasan ketat dan standar kualitas yang jelas. Sampai proses investigasi tuntas, pihak berwenang terus bekerja demi memastikan keamanan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.